Selasa, 08 Desember 2009

Kampoeng Batik Jetis



Bak penari yang lincah menari-nari, jari-jari tangan sejumlah perempuan di kampung Jetis, Sidoarjo itu meliuk-liuk di atas sehelai kain putih.
Cairan malam yang meleleh dari ujung canting seketika itu juga menutupi arsiran serangkaian motif di atasnya. Sabar dan teliti. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan kain putih yang semula tampak biasa itu berubah menjadi kain untuk busana dengan nilai seni yang tinggi. Kain batik tulis.

Aktivitas perbatikan di kota udang itu sebenarnya telah ada sejak 1675 silam. Keberlangsungannya yang masih tetap bertahan hingga sekarang bukannya mulus tanpa halangan. Industrialisasi, budaya instan seperti membuat batik cap, juga ikut andil menjadi alasan mengapa batik tulis di Jetis kurang diminati kaum muda-mudinya.
Permodalan yang besar seringkali membuat para pengrajin dan pengusaha batik tulis di Jetis gulung tikar.

"Kalau ada Bank atau tempat pinjaman uang dengan bunga yang sangat rendah, saya beserta istri berani untuk mulai membuat batik lagi," kata Ichyak Ulumuddin (37), warga Jetis, Lemah Putro, Kecamatan Sidoarjo.

Meski nama batik Jetis tak begitu populer jika dibandingkan batik Pekalongan, batik Jetis tetaplah batik Jetis. Corak warnanya yang mencolok akan menjadi ciri khas tersendiri bagi khasanah batik yang tumbuh kembang dan menjadi tradisi bagi masyarakat di Indonesia.








Rambu Untuk Makhluk Halus

Rambu-rambu lalu lintas yang banyak bertebaran di jalan raya memang sengaja diciptakan. Tujuannya, tentu saja sebagai pemberitahuan, atau semacam wanti-wanti kepada para pengguna jalan (baca: orang) agar selalu waspada dan lebih berhati-hati saat melintas di ruas jalan raya. Namun, ternyata tidak selamanya rambu-rambu lalu lintas itu berlaku untuk orang saja. Contohnya seperti rambu yang saya temukan ini. Entah siapa yang membuatnya. Kami, yakni, saya beserta seorang teman yang melihatnya pada suatu siang itu, dibuat heran dengan rambu yang satu ini. "Kok bisa ya???" kata salah seorang teman saya itu. Dengan masih diselimuti rasa heran, kami pun langsung beringsut menuju Sarkam, sembari memperlihatkan barisan gigi dan suara gelak tawa yang meski hanya sekejab dapat melupakan panasnya terik matahari waktu itu.

Minggu, 29 November 2009

Rumah Indekos Para Pemberontak

Sebuah catatan kecil dari sebuah gang kecil di pelosok kota Surabaya.

rumah indekos para 'pemberontak'

Selasa, 30 Juni 2009

Mengaji Yuk

Mengaji. Memang semestinya tak hanya membaca hurufnya saja. Mengaji seharusnya juga memahami makna dan mewujudkannya dalam aksi nyata. Tapi bagi sebagian orang, mengaji itu membiasakan diri. Menggerakkan mulut dan membasahi bibir dengan kalimat-kalimat suci. Agar bergetar dadamu..Supaya Al Quran tertanam di Hatimu.


Mujammik (27) mendekat ke jendela untuk mencari cahaya supaya dapat membaca Al Quran miliknya. Aktivitas itu biasa ia lakukan hampir setiap sore, tatkala matahari perlahan mulai tenggelam di ufuk barat.

Senin, 30 Maret 2009

Para Wali Di Pesisir Pantai Kenjeran

Semilir angin berhembus menyelingi debur ombak yang bergemuruh menghantami bebatuan di sepanjang pesisir pantai Kenjeran. Dari dalam sebuah bangunan, sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Di ujung timur kota Surabaya itu, tepatnya kampung Nambangan, dua orang waliyullah, Syekh Umar Sumbawa dan KH Hasbullah, telah dikebumikan.

Syekh Umar sendiri adalah seorang saudagar kaya dan sekaligus penyebar agama Islam di Sumbawa pada abad 18. Jasad Syekh Umar ditemukan oleh para nelayan mengambang dan terdampar di pesisir pantai Kenjeran. Mereka kemudian mencoba mengembalikan jasad itu ke tangah laut hingga empat kali. Namun entah kenapa jasad itu kembali lagi ke bibir pantai.

KH Hasbullah yang mengetahui kejadian itu kemudian mengatakan kepada para nelayan, bahwa jasad yang mereka temukan itu minta dikebumikan di wilayah itu. Karena peristiwa itulah kampung para nelayan yang terletak di pesisir pantai Kenjeran itu dinamai Nambangan.

Karamah yang dimiliki kedua waliyullah ini masih bisa dirasakan hingga sekarang, setidaknya bagi masyarakat yang tinggal di kampung Nambangan. Karenanya, tak heran jika setiap harinya ada saja orang datang berziarah.

Para peziarah itu bukan mengharap kebahagiaan materi, tetapi barokah sang wali dan ketentraman hati. “Saya sudah seminggu lebih di sini, untuk mengharap barokah para wali dan membersihkan hati,” kata Syamsul (26), peziarah asal Demak, Jawa Tengah, yang telah seminggu lebih berada di lokasi makam.



Pintu gerbang menuju makam waliyullah Syekh Umar Sumbawa dan KH Hasbullah.



Bangunan yang menjadi tempat salat (mushalla) bagi para peziarah sekaligus lokasi makam Syekh Umar Sumbawa dan KH Hasbullah.



Sebuah puing bekas menara pengintai yang dibangun oleh pemerintah Belanda pada masa penjajahan.



Seorang peziarah membaca syi'ir yang senantiasa dibaca ketika berziarah ke makam Syekh Umar Sumbawa dan KH Hasbullah.



Makam Kedua Waliyullah Syekh Umar Sumbawa dan KH Hasbullah.



Syamsul (26), peziarah asal Demak, Jawa Tengah, yang telah seminggu lebih berada di makam untuk berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, Sang Pencipta Alam Semesta.


Sejumlah peziarah memanfaatkan cahaya lilin sebagai penerangan pada malam hari. Lokasi makam yang temaram membuat sejumlah peziarah itu bertambah khusuk dalam berdzikir.